Polisi Hentikan Aksi FPI
TASIKMALAYA - Front Pembela Islam (FPI) Tasikmalaya melakukan aksi sweeping tempat jualan makanan yang nekat buka di bulan suci Ramadhan, Rabu (24/9). Sedikitnya 15 lapak tempat jualan makanan dirusak massa FPI, karena tepergok berjualan disiang bolong. Polisi akhirnya menghentikan aksi mereka.
Massa FPI yang berjumlah sekitar 50 orang itu melakukan sweeping dengan mengendarai sepeda motor dan membawa peralatan seperti bambu dan kayu. Awalnya mereka menyisir Jalan Siliwangi, Jalan Terusan KHZ Mustofa dan Jalan Nagarawangi.
Karena tak menemukan sasarannya, aksi dilanjutkan ke Jalan Pasar Wetan. Di jalan inilah massa FPI memergoki belasan lapak makanan tengah berjualan.
Tanpa basa-basi lagi, massa langsung melakukan aksinya. Belasan lapak jualan makanan termasuk lapak bakso diobrak-abrik. Para pemiliknya hanya bisa bengong karena tak berani bertindak apa-apa. Setelah beraksi dalam waktu yang singkat, massa FPI melanjutkan aksinya menyusuri jalan lainnya.
Salah seorang pemilik lapak, Harun (38), mengaku tak menyangka bakal menjadi korban aksi razia FPI. Seluruh modal usahanya yang disiapkan sebesar Rp 2 juta langsung musnah. “Biasanya kalau mau ada razia suka ada peringatan terlebih dahulu. Tapi kali ini mereka langsung saja beraksi. Saya tak sempat berbuat apa-apa,” keluh tukang bakso ini.
Tisna (34), pedagang lainnya, mengaku nekat berjualan di siang bolong karena terdesak kebutuhan untuk menghadapi Lebaran. “Usaha saya hanya jualan. Jika libur dari mana bekal untuk anak istri merayakan Lebaran. Saya akhirnya nekat berjualan, dengan harapan pembelinya kaum perempuan yang tengah ada halangan,” ujarnya.
Sementara massa FPI melanjutkan aksinya ke Jalan Yudanegara dan kawasan Mesjid Agung di simpang Jalan Otista-Jalan Dr Soekardjo. Namun di sini massa FPI berupaya diamankan polisi agar aksi mereka tidak belanjut. Kapolresta Tasikmalaya AKBP Drs Teddy Setiadi sempat bersitegang, tapi massa akhirnya bersedia diangkut ke Mapolresta.
Kapolresta mengatakan, pihaknya terpaksa mengangkut massa FPI ke Mapolresta agar aksi yang diduga anarkis itu tidak meluas. “Ya, kita beri pengarahan lah agar aksi tidak berlanjut,” ujarnya.
Di Mapolresta, massa FPI berkumpul di masjid dan melakukan dialog dengan polisi, diselingi solawatan.
Pada saat sama sekitar 29 pedagang mendatangi Mapolresta. Mereka bermaksud mengadu karena mengklaim lapak mereka dirusak massa FPI.
Sebagian dari mereka datang dengan penuh emosi karena lapaknya hancur. Mereka kemudian dikumpulkan di Aula untuk membuat BAP pengaduan. (stf)
Aksi FPI
* Rabu (24/9) siang massa FPI dengan mengendari motor menyisir Jalan Siliwangi, Jalan Terusan KHZ Mustofa, dan Jalan Nagarawangi, dilanjutkan ke Jalan Pasar Wetan.
* Di Jalan Pasar Wetan, massa FPI mengobrak-abrik belasan jualan makanan termasuk lapak bakso.
* Di Jalan Yudanegara dan kawasan Masjid Agung di simpang Jalan Otista-Jalan Dr Soekardjo, aksi FPI dihentikan polisi.
* Setelah sempat bersitegang, massa FPI bersedia diangkut ke Mapolresta untuk diberi pengarahan.
Korlap FPI Agus Bahrul Ulum:
Kami Siap Hadapi Konsekuensi Hukum
KOORDINATOR lapangan (Korlap) FPI Agus Bahrul Ulum menandaskan pihaknya terpaksa melakukan razia sendiri karena surat peringatan yang disampaikan ke Pemkot, MUI dan polisi agar menindak pedangan yang melanggar imbuan berjualan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, tidak pernah digubris.
“Sebelum melakukan razia kami sudah melayangkan surat ke Pemkot, MUI dan Polresta. Isinya agar menindak pedagang yang melanggar aturan jualan di bulan Ramadhan. Tapi ternyata tidak ada tindakan nyata. Kami akhirnya turun ke jalan, demi terciptanya Ramadhan yang bersih dari kemungkaran,” ujar Agus di Mapolresta.
Ihwal adanya tindakan anarkis, menurut Agus, itu tindakan spontanitas anggota FPI. Sebabnya, pimpinan FPI Tasikmalaya tidak pernah mengeluarkan perintah melakukan pengrusakan. “Namun, bagaimana pun kami siap menghadapi konsekuensi hukum dan akan menyiapkan tim advokasi,” jelasnya.
Agus menambahkan, pihak FPI pada dasarnya ingin menjaga agar suasana bulan penuh berkah ini tidak dinodai hal-hal yang munkar. Umat Islam bisa menjalankan ibadah puasa dan ibadah lain secara tenang dan nyaman. “Maksud kami hanya itu saja. Soal di lapangan ada tindakan di luar komando, itu hanya spontanitas saja,” katanya. (stf)(sumber:tribunjabar)







