Categories Berita Hari IniHOT NEWSKesehatan

Pasien Difteri di Garut Terus Berjatuhan

Penderita Difteri terus berjatuhan, kini seorang pasien asal Garut dikabarkan meninggal usai sebelumnya sempat dirawat di RSUD dr Slamet. Ditambah Oom Mariati (63) kini total sudah berjumlah empat nyawa yang melayang akibat Difteri di Garut.

“Ada satu orang yang meninggal dunia, bernama Oom Mariati, ia merupakan warga dari Kecamatan Garut Kota,” Tutur Lingga Saputra selaku Humas RSUD, Rabu (27/12/17).

Ia pun memaparkan bahwa Oom dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (26/12/17) Sore, Usai 11 hari menjalani perawatan. Oom dikabarkan masuk ruang isolasi RSUD Garut sejak 15 Desember 2017. “Meninggal kemarin petang sekitar pukul 17.55 WIB,” Lanjutnya.

Hingga kini, Lingga menambahkan, Jasad Oom telah diserahkan kepada pihak keluarga guna dimakamkan. “Sebelum diserahkan, petugas memandikan jenazah terlebih dahulu untuk mencegah penyebaran virus,”

Selain itu, empat pasien penderita difteri lain yang dirawat di RSUD dr Slamet Garut yakni Siti Rogiah (15) , Julianah (16), Nurdin Farid (29) dan Chodijah (76) dinyatakan telah sembuh. “Mereka sudah dinyatakan sembuh, dan sudah diijinkan untuk pulang.” Lanjutnya.

Kabar baik pun datang dari keempat pasien tersebut, sebab terus mengalami perkembangan yang signifikan saat dirawat di RSUD dr Slamet. “Empat pasien dinyatakan sembuh, sementara yang satu dinyatakan meninggal.” Tutupnya.

Categories Berita Hari IniHOT NEWSKesehatan

Pemprov Jabar Targetkan Imunisasi Kepada 3,6 Juta Penduduk

Dikabarkan Dinas Kesehatan Provinsi Jabar paling tidak akan menargetkan 3.629.178 anak dengan rentang usia antara 1-19 tahun dengan tujuan hendak mencegah wabah difteri yang diklaim rawan menyerang lima Kabupaten/Kota di Jawa Barat.

“Insha Allah terhitung mulai minggu depan akan dilaksanakan ORI (Outbreak Respon Imunization) terhadap semua anak mulai dari usia satu tahun sampai 19 tahun yang ada di Jawa Barat,” Ungkap Yus Ruseno selaku Kepala Seksi Surveilan dan Pencegahan Penyakit Dinas kesehatan Jawa Barat, Kami (07/12/17)

Ia pun turut menuturkan bahwa keputusan guna kegiatan imunisasi yang dilakukan serentak tersebut adalah hasil rapat Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, pada Rabu (06/12/17)

“Untuk pelaksaan ORI di provinsi Jawa Barat, akan diselenggarakan di Karawang, Depok, Purwakarta, dan Kabupaten Bekasi,” Tambahnya.

Sebab, dari hasil pantauan, daerah yang paling rawan terserang difteri di Jawa Barat adalah Purwakarta, terjadi peningkatan yakni, dari 21 menjadi 27 kasus, sementara untuk daerah Karawang, dari 13 mencapai 14 kasus.

Ia pun berpendapat bahwa imunisasi massal tersebut bakal diselenggarakan dalam tiga tahap. Jarak rentang imunisasi pertama dan kedua yaitu satu bulan. Sedangkan, imunisasi ketiga akan dilakukan usai enam bulan setelah imunisasi kedua.

Yus menuturkan bahwa sejak awal 2017 hingga Rabu (06/12/17), sedikitnya terdapat 123 kasus penyakit difteri di Jawa Barat dan apabila satu kasus difteri saja di Jawa Barat, otomatis hal tersebut merupakan kejadi yang luar biasa.

Sementara itu, daerah dengan kasus difteri tertinggi di Jawa Barat adalah Kabupaten Purwakarta dengan 27 kasus, Kabupaten Karawang 14 kasus, Kota Depok 12 kasus, Kota Bekasi 12 kasus, Kabupaten Garut 11 kasus, Kota Bandung tujuh kasus, dan sisanya tersebar di 14 Kabupaten/Kota lainnya di Jawa Barat.

Dan bila secara keseluruhannya, jumlah kasus penyakit difteri yang tercatat sampai Kamis (07/1/17) lalu, di Jawa Barat sudah mencapai 123 kasus. Malahan, tiga hari sebelumnya, penyakit tersebut terjadi dalam 116 yang mampu membunuh 13 anak.

Yus juga menerangkan, peningkatan kasus itu terjadi karena pasien sebagian besar dirawat di rumah sakit swasta dan telat mengabarkan kepada dinas kesehatan setempat.

Untuk itu, pemerintah berharap agar semua masyarakat paham betul dan tidak menolak adanya kegiatan ini. Sebab, penyakit tersebut merupakan penyakit yang mudah menular serta hanya dapat dicegah melalui imunisasi.

Dengan syarat, paling tidak 95% penduduk telah diimunisasi. Dan pada persentase berikut, kekebalan kelompok sudah tercapai. Bakteri tidak dapat menyebar apalagi menginfeksi pihak lain. Di sini, Imunisasi rutin merupakan kunci utamanya.

Imunisasi sendiri akan diselenggarakan mulai tanggal 11 Desember 2017, dan berlokasi di 12 Kabupaten/Kota di Jawa Barat, DKI Jakarta, serta Banten. Imunisasi itu sendiri diharapkan dapat menekan kasus yang sudah mencapai 593 kasus dengan 32 kasus kematian di Seluruh Tanah Air.

Categories Berita Hari IniBisnisKesehatan

Rokok Jenis Komoditan yang Sering dibeli Orang Miskin

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin selama periode September 2016 hingga Maret 2017 meningkat sekitar 6.900 orang. Total penduduk miskin yang ada saat ini sekitar 27,77 juta orang.

Garis kemiskinan pada periode September 2016 hingga Maret 2017 naik 3,45% menjadi Rp 374.478 per kapita per bulan. Pada September 2016 sebesar Rp 361.990 per kapita per bulan.

Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, menjelaskan status kemiskinan digunakan sebagai alasan untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin dan kaya. Penduduk miskin adalah yang mempunyai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah pada garis kemiskinan tersebut, yaitu Rp 374.478 per kapita / bulan.

Jenis makanan yang paling paling banyak dibeli oleh penduduk miskin ialah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, gula pasir, mie instant, kopi bubuk dan kopi instant, dan bawang merah.

Dari data BPS, nilai Rp 374.478 per kapita per bulan tersebut banyak dihabiskan oleh penduduk miskin untuk mengkonsumsi makanan sebesar Rp 274.544 atau 73,31% dari total pendapatan, dan bukan makanan sebesar Rp 99.933 atau 26,69% dari pendapatan.

“Dengan Maret 2017 374.478 per kapita per bulan, 73% disumbang oleh makanan. Kita harus menjaga supaya harga bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin harus stabil. Kalau enggak stabil akan berpengaruh terhadap peningkatan penduduk miskin,” kata Kecuk saat Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Senin (17/7/2017).

Sementara untuk pengeluaran bukan makanan yang besar pengaruhnya ialah biaya perumahan, listrik, bensin, pendidikan, angkutan, kesehatan, dan perlengkapan mandi.

Berikut rincian komoditas yang memberikan pengaruh terhadap garis kemiskinan:

1. Beras di kota 20,11% dan desa 26,46%
2. Rokok di kota 11,79% dan desa 11,53%
3. Daging sapi 0,24% di kota dan 0,16% di desa
4. Telur ayam ras di kota 3,69% dan 3,13% di desa
5. Daging ayam ras 3,61% di kota dan 2,23% di desa
6. Mie instan di kota 2,59% dan 2,31% di desa
7. Gula pasir di kota 2,27% dan 3,04% di desa
8. Bawang merah 1,67% di kota dan 1,95% di desa
9. Tempe 1,67% di kota dan 1,51% di desa
10. Tahu 1,59% di kota dan 1,36% di desa

Bukan Makanan

1. Perumahan di kota 9,01% dan di desa 7,30%
2. Listrik 3,26% di kota dan 1,66% di desa
3. Bensin 3,84% di kota dan 2,80% di desa
4. Pendidikan di kota 2,41% dan 1,45% di desa
5. Angkutan 1,57% di kota dan 0,79% di desa.